Menangis Di Bawah Hujan

Menangis Di Bawah Hujan



Di dalam hidup, tidak selamanya manusia akan berada di dalam zona kebahagiaan. Terkadang, manusia juga terjebak di lubang kesedihan, kesedihan yang membuatnya harus meneteskan air mata. Tidak ada satu orang pun yang terlalu kebal dengan rasa sakit, terlalu biasa dengan rasa sedih. Semua orang pasti pernah ada di dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis. Bukan hanya perempuan, bahkan sejatinya seorang pria juga bisa menangis. Bagaimanapun juga manusia tercipta dengan hati, hati manusia seolah memiliki rasa sendiri, rasa yang tidak akan pernah bisa dibohongi. Jadi meskipun tidak diinginkan, terkadang harus menangis juga. Tetapi tidak selamanya kesedihan harus diperlihatkan, tidak semua kesedihan mampu diceritakan. Dan menangis adalah salah satu jawabannya.
Kamu pasti pernah berada di dalam keadaan yang tidak tau harus berbuat apa, tidak mengerti lagi apa yang harus kamu katakan, hingga tanpa terasa air mata menetes dari matamu. Jika saat ini hujan, cobalah untuk menceritakannya kepada hujan. Tumpahkan air matamu bersama jatuhnya tetes hujan, menangis di bawah hujan akan menjadikanmu jauh lebih hangat. Meski tidak ada satu orang pun yang tau bahwa kamu sedang menangis, hujan bisa memahamimu. Hujan akan menemani setiap tetesan air matamu, hujan akan membiaskan kesedihanmu. Tidak ada hal lain seindah hujan, terutama saat kamu sedang dirundung rasa sedih. Hujan selalu menjadi penyempurna setiap rasa yang kamu rasakan, bahkan terkadang hujan seolah mampu menggambarkan apa yang sedang kamu rasakan, tanpa kamu mengungkapkannya.


Menangis di bawah hujan akan menutupi kesedihanmu, jika ada orang yang iba dengan kesedihanmu, tidak menutup kemungkinan ada orang yang tertawa di atas kesedihanmu. Hidup ini penuh dengan dua hal yang berbeda, antara iya dan tidak, baik dan buruk, pro dan kontra. Jangan pernah berharap semua orang akan ada di pihakmu, terutama saat kamu sedang terpuruk. Karena itu tidak mungkin, hidup ini selayaknya bara api yang siap menyala, sewaktu-waktu bisa memberikan kejutan yang tidak dikira. Kejutan itu tidak selamanya baik, justru banyak kejutan yang akan membuatmu merasa jauh lebih buruk. Salah satu cara menjaga diri sendiri adalah dengan menutupi kesedihanmu, jika ada orang yang tidak menyukaimu dan mengerti bahwa kamu sedang sedih, ini akan jadi momen terbaik untuk menjatuhkanmu. Menangis di bawah hujan akan membiaskan kesedihanmu, orang-orang tidak akan tau bahwa kamu sedang menangis. Saat air mata bercampur dengan air hujan, kesedihan terbiaskan menjadi kebahagiaan.
Meskipun tidak selamanya mudah menutupi rasa sedih, tapi selalu ada alasan untuk tetap terlihat bahagia. Dia dan mereka semua tidak pernah benar-benar mau menjadi sandaran rasa sedihmu, sekalipun mau, itu hanya dari yang terlihat, lain cerita di dalam hatinya. Saat bersedih, hujan adalah bagian yang teristimewa, hujan menjadi tempat terhangat untuk mengungkapkan semua cerita. Air mata yang terjatuh akan hanyut dan bermuara ditempat yang luas, air matamu akan memahami banyak hal tentang hidup. Saat air matamu bermuara, bertemu dengan air mata orang lain, maka seharusnya bisa menyadarkanmu, bahwa semua orang juga mengalami kesedihan, bahkan mungkin lebih dalam. Tetapi kekuatan mereka untuk bangkit membuat mereka tetap mampu berpijak di bumi dengan kaki yang kokoh.
Menangis di bawah hujan tidak akan memperlihatkan kelemahanmu, bagaimanpun juga menangis adalah tanda titik lemah manusia, dan semua orang memiliki itu. Tapi tidak semua orang memperlihatkan kelemahan itu, dengan menangis di bawah hujan setidaknya kelemahanmu terbiaskan dengan kekuatan Tuhan, menurunkan derasnya hujan. Semua orang pasti pernah menangis, entah karena perkara apapun. Tidak ada yang salah dengan menangis, meskipun menangis adalah tanda kelemahan, tetapi menangis menjadi tanda kelebihan yang dimiliki manusia. Dengan menangis, itu menandakan betapa perdulinya manusia dengan suatu hal. Manusia tercipta dengan hati, hati tidak lemah, meskipun tidak pernah benar-benar kuat. Hati manusia sejatinya tidak lemah, karena hati manusia terbiasa merasakan kesedihan, kekecewaan, rasa sakit dan lain sebagainya, tetapi hati tidak pernah menangis. Tidak ada satu orang pun yang benar-benar memahami isi hati orang lain, hati adalah sebuah rahasia. Rahasia yang hanya Tuhan dan pemiliknya saja yang tau. Isi hati seseorang hanya bisa ditebak dari apa yang terlihat di wajahnya. Saat tertawa, itu berarti hatinya sedang bahagia, saat menangis itu berarti hatinya sedang bersedih. Manusia hanya bisa menilai sampai titik itu, selebihnya tidak ada yang tau.
Hati manusia sebenarnya terbiasa untuk merasakan banyak hal, hati manusia terlatih untuk mengatasi banyak permasalahan. Tetapi hati manusia juga tidak jarang dikejutkan dengan permasalahan baru, ini yang terkadang membuat hati tidak mampu menahan sedih. Hingga pada akhirnya membuat air mata tidak lagi mampu terbendung.
Entah kenapa, menangis di bawah hujan seolah menjadi jawaban. Sebagai cara terindah untuk meneteskan air mata, ini bukan menceritakan sebuah drama, karena memang pada kenyataannya itu yang terasa. Jika kamu pernah menangis di bawah hujan, kamu akan memahami hal ini. Hujan selalu menjadi teman yang indah untuk berbagi air mata. Meskipun hujan tidak pernah benar-benar memahami maksudmu menangis, karena hujan bukan Tuhan. Dari begitu istimewanya hujan, tetap Tuhan yang menciptakannya. Hujan hanya sebagai media untuk mencurahkan isi hatimu kepada Tuhan, saat kamu mampu berbicara dari hati untuk Tuhan, maka Tuhan akan memberikan jawabannya. Menangis di bawah Hujan akan membuatmu merasa kecil, membuatmu merasa lemah dan di saat itu Tuhan akan terasa dekat.

Menjadi Sempurna Adalah Harapan Yang Sia-sia

Menjadi Sempurna Adalah Harapan Yang Sia-sia


Manusia memang sejatinya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, tapi itu bukan berarti bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Tidak ada satu hal pun yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa mencapai titik sempurna, sekeras apapun dia mencoba, tetap saja tidak ada satu manusia pun yang sempurna.
Sebagai manusia, kamu hanya dituntut dan memiliki kewajiban untuk menjadi lebih baik, tidak pernah ada yang memintamu untuk menjadi sempurna. Karena menjadi sempurna adalah harapan yang sia-sia. Sebaik-baiknya manusia, tetap ada hal yang tidak baik di dalamnya, sekecil apapun itu. Jadi jika saat ini kamu merasa bahwa dirimu terlalu jauh dari kata sempurna, semua orang juga demikian.
Oleh sebab itu, jangan pernah kamu merasa kamu begitu berada di bawah, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tapi juga tidak boleh merasa bahwa kamu benar-benar ada di posisi puncak, karena tidak ada satu manusia pun yang bisa berada di titik sempurna.
Jika kamu mempunyai pasangan, sudah sewajarnya kamu menerimanya sepenuhnya, segala kebaikan dan keburukannya, tidak seharusnya kamu memintanya untuk menjadi sempurna, karena itu tidak mungkin. Kamu hanya bisa memintanya untuk sebatas menjadi lebih baik, karena semua orang memiliki kewajiban untuk menjadi lebih baik setiap waktu. Jika dibandingkan dengan kata sempurna, manusia sama sekali tidak ada apa-apanya, manusia jauh dari kata sempurna.


Sejatinya manusia tercipta dengan hati dan pikiran di dalamnya, hati dan pikiran manusia menjadi tombak bermata dua, karena hati dan pikiran manusia bisa menjadikan dirinya menjadi lebih baik, tapi juga bisa membuatnya menjadi lebih buruk. Karena di dalam hati manusia ada bagian yang bernama nafsu, adanya nafsu dalam diri manusia menandakan bahwa manusia tidak sempurna.
Manusia juga tidak akan bisa melakukan semua hal sendirian, manusia membutuhkan campur tangan orang lain untuk bisa mencukupi kebutuhannya. Dari sini juga sudah terlihat jelas, bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan menjadi sempurna adalah harapan yang sia-sia. Pada dasarnya setiap orang ingin menjadi lebih baik atau bahkan menjadi yang terbaik, tetapi manusia tetap tidak akan mencapai titik sempurna dari segala hal.
Saat ini coba kamu perhatikan dirimu sendiri, kamu pasti mempunyai satu keahlian yang benar-benar membuatmu merasa hebat, tetapi di sisi lain kamu pasti memiliki kekurangan, kamu tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain untuk beberapa hal. Kesempurnaan manusia hanya sampai pada titik itu, saat memiliki kelebihan dan memiliki kekurangan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang luput dari kekurangan.
Perjalanan hidup manusia akan menjadikannya berbeda satu sama lain, selain itu takdir manusia juga tidak ada yang sama. Dari manusia yang berbeda itu, tidak ada satupun yang sempurna, manusia hanya menjadi lebih baik satu sama lain, dan menjadi lebih buruk satu sama lain. Manusia selalu ada di titik itu, kamu dan dia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Meski ini menandakan ketidaksempurnaan manusia, tetapi hal ini menjadi penyempurna kehidupan manusia. Sejatinya manusia tercipta dengan ambisi, ada saja orang yang merasa bahwa segalanya bisa dia dapatkan, hal ini memang terkadang baik, tapi saat ambisi tidak mampu dikendalikan, dia akan ada dalam harapan yang sia-sia. Karena ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dimiliki dan dilakukan oleh manusia, manusia penuh dengan keterbatasan, itu keniscayaan.
Menjadi sempurna adalah harapan yang sia-sia, karena titik sempurna tidak akan pernah ditemukan oleh manusia. Satu-satunya yang sempurna adalah Tuhan, jika ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya sempurna, maka dia adalah orang yang sangat angkuh dan belum benar-benar mengerti arti hidup yang sebenarnya.
Sebagai manusia kamu memiliki kewajiban untuk menjadi lebih baik, upayakan saja bagaimana caranya bisa menjadi lebih baik, jangan pernah berupaya untuk menjadi sempurna, karena menjadi sempurna adalah harapan yang sia-sia. Saat seseorang mengejar kesempurnaan, dia akan terjebak dalam harapannya sendiri. Karena sejatinya manusia tidak mengerti tentang arti kata sempurna, bahkan pemikiran manusia tidak mampu memikirkannya.
Jika kamu adalah manusia yang percaya dengan kesempurnaan Tuhan, seharusnya kamu tidak akan pernah berharap menjadi sempurna, apalagi menuntut orang lain untuk menjadi sempurna. Pada kenyataannya, seseorang yang lebih baik justru akan merasa bahwa dirinya banyak kekurangan. Hingga dia jauh lebih keras berupaya untuk memperbaiki dirinya sendiri. Saat seseorang berbicara tentang kesempuranaan, itu menandakan jika yang dia miliki hanyalah ambisi dan harapan. Kapasitas manusia tidak untuk mencapai titik sempurna, karena sampai kapanpun tidak ada satu manusia yang bisa mencapai titik sempurna.
Tuhan tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan, Tuhan teramat suka dengan segala hal yang seusai dengan porsinya, sesuai dengan batas masing-masing. Kapasitas kamu sebagai manusia tidak untuk mencapai titik sempurna, karena itu sangat berlebihan. Jadilah manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu, lakukan apapun yang kamu bisa untuk mencapai titik kebaikan. Sekalipun yang kamu lakukan tidak lebih besar dari orang lain, Tuhan akan sangat menghargai yang kamu lakukan dengan kapasitasmu.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, jadi jangan pernah menuntut seseorang untuk menjadi sempurna. Tuntun dia untuk menjadi lebih baik, itu saja sudah cukup. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tuhan tidak menakdirkan satu manusia pun untuk menjadi sempurna.

Kenapa Tuhan Menciptakan Dua Telinga dan Satu Mulut

Kenapa Tuhan Menciptakan Dua Telinga dan Satu Mulut



Sudah bukan saatnya lagi meragukan betapa hebatnya Tuhan, Tuhan Sang Pencipta. Tetapi apa yang dilakukan Tuhan sebenarnya bukan hanya tentang Menciptakan. Karena sesungguhnya setiap hal yang diciptakan oleh Tuhan, selalu memiliki arti dan pembelajaran di dalamnya. Dalam hal ini bisa dilihat dari hal yang sederhana dan bisa kamu lihat setiap hari. Pernahkah kamu berpikir atau bertanya kenapa Tuhan Menciptakan Dua Telinga dan Satu Mulut? Apa sebenarnya alasan Tuhan menciptakan telinga dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan mulut. Mengenai alasan Tuhan, tentu saja hanya Tuhan yang tau. Tetapi sebagai manusia, kamu, dia, kita semuanya dituntut untuk belajar, manusia memiliki kewajiban untuk belajar tentang banyak hal. Termasuk belajar memaknai ciptaan Tuhan.
Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan, tanpa fungsi, karena Tuhan menciptakan segala hal dalam porsi yang pas. Dilihat dari fungsinya, telinga berfungsi untuk mendengarkan. Sedangkan mulut berfungsi untuk berbicara, jika jumlah telinga lebih banyak dari mulut, itu berarti tugas manusia untuk mendengarkan jauh lebih banyak dibandingkan untuk berbicara. Sejatinya, memang manusia yang mampu banyak mendengar adalah manusia yang pandai, penuh dengan pengalaman dan pengetahuan. Karena dia mampu belajar dari banyak orang, mampu mendengar dari cerita orang lain. Sebaliknya, seseorang yang banyak berbicara justru terkadang membuatnya terlihat tidak ada apa-apanya. Orang yang terlalu banyak bicara, biasanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sekalipun sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, mengumbar perkataan bukanlah sesuatu yang disukai Tuhan.

Tugas manusia untuk mendengarkan lebih banyak dibandingkan untuk berbicara. Karena mulut seseorang hanya memiliki tugas untuk menyampaikan pemikiran satu otak dan perasaan satu hati, yaitu miliknya sendiri. Tetapi telinga bertugas untuk mendengarkan pembicaraan dari banyak orang, dari sini saja semuanya sudah jelas, kenapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Itu karena Tuhan mengerti tugas dari masing-masing, Tuhan mencitpakannya sesuai dengan porsinya. Lalu, sampai detik ini apakah kamu sudah memperlakukan segala sesuatu di dalam tubuhmu sesuai dengan porsinya? Kamu saat ini menjadi tipe orang yang banyak mendengarkan atau banyak berbicara? Sebenarnya tidak ada salahnya orang banyak berbicara, apalagi jika yang dibicarakan itu adalah hal-hal yang baik dan bisa membuat orang menjadi lebih baik. Tetapi yang menjadikan banyak berbicara itu sebagai sesuatu yang salah adalah saat kamu berbicara yang tidak baik, saat kamu membicarakan hal-hal yang tidak semestinya kamu bicarakan. Itu saja sebenarnya, berbicara sama sekali tidak dilarang oleh agama, apalagi oleh Tuhan.
Tubuh manusia tercipta dengan fungsinya masing-masing, dengan tugasnya masing-masing, semuanya tercipta dengan pas. Mengenai telinga dan mulut, memang sudah seharusnya manusia menggunakan telinganya lebih banyak dibandingkan mulutnya. Jika manusia mampu menggunakan segala sesuatu sebagaimana porsi dan fungsinya, maka dia akan menjadi manusia yang lebih baik. Faktanya orang yang banyak mendengarkan, adalah orang yang memiliki banyak pengalaman, karena dia mendengarkan cerita berbagai hal dari banyak orang. Selain itu, saat banyak orang yang menceritakan suatu hal kepadanya, berarti dia adalah orang yang bukan sekedar bisa menjadi pendengar yang baik, tetapi dianggap sebagai orang yang bisa dipercaya untuk mendengar dan mengerti cerita mereka. Karakter dari orang yang banyak mendengar sebenarnya sangat bagus, dia pasti memiliki pemikiran yang dalam tentang suatu hal, dia pasti mempertimbangkan semua hal dari sudut pandang yang berbeda. Dan yang pasti dia lebih dewasa dalam menyikapi semua hal itu.
Sebaliknya orang yang banyak berbicara, biasanya adalah mereka yang tidak pandai menghadapi suatu permasalahannya sendiri. Selain itu, biasanya orang yang banyak bicara tidak memiliki cukup akal untuk bisa menghadapi semua hal, atau dia terlalu lemah untuk menyimpan beban yang ada. Sebenarnya itu sama sekali tidak masalah, karena semua orang butuh membagikan bebannya, meskipun hanya dengan bercerita. Tetapi terkadang dari apa yang dibicarakan menjadi sesuatu yang berlebihan. Seperti yang sudah kamu tau, lidah tidak bertulang, dan tergelincirnya lidah lebih berbahaya dari tergelincirnya kaki. Orang yang banyak berbicara sangat rentan sekali tergelincir lidah. Ini yang terkadang membuat orang yang banyak berbicara menjadi salah, bukan karena dia berbicara, tetapi karena yang dia bicarakan.
Apapun itu, manusia bukanlah makhluk yang benar-benar sempurna, manusia memiliki kekurangan dan tetap tidak luput dari kesalahan. Termasuk mungkin kesalahan dalam bertutur kata. Oleh sebab itu, sudah seharusnya sebagai manusia belajar untuk meminimalisir kesalahan, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan tidak terlalu banyak berbicara. Karena dalam sebuah pembicaraan, terkadang tanpa disadari terdapat suatu hal yang dilebih-lebihkan. Mulai saat ini belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik, mendengarkan berbagai kisah orang lain. Karena di dalam itu pasti ada banyak pelajaran yang bisa kamu dapatkan. Tuhan menciptakan sesuatu tidak pernah tanpa alasan, tidak pernah tanpa tujuan. Karena semua yang tercipta adalah porsi yang paling pas, tidak kurang dan tidak lebih. Manusia hanya perlu menggunakannya sesuai porsinya saja. Belajar menjadi lebih bisa dimulai dengan bertindak sesuai porsinya.
Pembicaraan terkadang menjadi sebuah hal yang memiliki dampak positif yang luar biasa, karena banyak hal baik tercipta dari pembicaraan. Tetapi terkadang pembicaraan juga menjadi penyebab hal buruk terjadi, jadi yang perlu dilakukan adalah bagaimana mampu berbicara untuk menjadikan suatu hal yang baik, bukan sebaliknya. Sedangkan mendengarkan, dengan ataupun tanpa kamu inginkan, kamu tetap akan mendengarkan banyak hal. Mendengarkan di luar kendali dirimu, tetapi itu sesuatu yang baik, jika kamu mampu memposisikan apa yang kamu dengar.

Meski Harus, Kata Maaf Seharusnya Tidak Terlalu Sering Terucap

Meski Harus, Kata Maaf Seharusnya Tidak Terlalu Sering Terucap



Sejak sedari kecil, kamu pasti sering sekali mendengar kata maaf. Kamu juga diajarkan untuk mengucapkan kata maaf setelah kamu melakukan kesalahan. Teori itu sudah sangat tertanam dalam di hati dan pikiranmu. Tapi sejatinya meski harus, kata maaf seharusnya tidak terlalu sering terucap. Semakin sering kamu mengucapkan kata maaf, itu berarti semakin sering kamu melakukan kesalahan. Bukankah seperti itu hukumnya?
Manusia memang tidak akan pernah luput dari kesalahan, jika kamu ingin mengerti seperti apa wujud dan sifat manusia sempurna, kamu tidak akan bisa menemukannya. Karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Itulah sebab kenapa manusia sering melakukan kesalahan, bahkan terkadang bangga dengan kesalahan yang dilakukannya. Tetapi meskipun kamu sudah tau bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kamu. Kamu tidak boleh memaklumi semua kesalahan yang kamu lakukan, dengan alasan kamu tidak sempurna. Saat seseorang akan melakukan sesuatu, pasti ada pilihan untuk tidak melakukannya. Demikian juga saat kamu akan melakukan kesalahan, sebenarnya kamu punya pilihan untuk tidak melakukannya.
Sebenarnya manusia juga diciptakan untuk sedikit mewarisi sikap pemaaf dari Tuhan, tetapi pada suatu titik tertentu, kata maaf tidak akan lagi diterima. Sebagai contoh, saat kamu melakukan kesalahan yang berulang-ulang dengan seseorang, sekali dua kali mungkin kata maaf yang kamu ucapkan akan dia terima, tetapi jika terlampau sering, kata maafmu tidak akan lagi berguna, kata maafmu bukan sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Bila saat itu terjadi, kamu seharusnya mengerti satu hal, meski harus, kata maaf seharusnya tidak terlalu sering terucap.
Kamu tidak bisa mengandalkan kata maaf untuk bisa menebus semua kesalahanmu. Karena di dalam hidupmu akan ada kesalahan yang tidak membutuhkan kata maaf darimu untuk menyelesaikannya. Kata maaf yang terlalu sering terucap dari mulut yang sama, juga akan menurunkan nilainya. Orang yang terlalu sering mengucapkan kata maaf, tapi tetap melakukan kesalahan dan berulang-ulang, semua perkataannya tidak akan lagi dipercaya, sekalipun itu adalah ucapan maaf.
Setelah melakukan kesalahan, memang sudah seharusnya meminta maaf. Itu adalah hukum yang memang harus ditegaskan, tetapi terkadang kata maaf saja tidak cukup. Apalagi jika kamu terlalu sering membuat kesalahan dan berkata maaf. Sejatinya orang yang sering mengucapkan kata maaf, sebenarnya dia sedang menurunkan martabatnya. Saat meminta maaf, memang sudah seharusnya terasa seperti memohon, itulah yang bisa menjadikan seseorang yang terlalu sering mengucapkan kata maaf adalah dia yang sedang menjatuhkan martabatnya sendiri. Itu dimulai dari saat dia melakukan kesalahan, hingga dia harus meminta maaf. Jadi jika kamu ingin tetap menjaga martabatmu, kamu bisa memulainya dari dalam dirimu sendiri. Mulai dengan tidak melakukan kesalahan, atau setidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan yang tidak seharusnya kamu lakukan.
Jika kamu bisa menjaga kata maaf, hingga kata itu tidak terlalu sering terucap dari mulutmu, maka kata maaf yang kamu ucapkan akan tetap memiliki nilai, akan tetap dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Kamu tidak harus mengucapkan kata maaf, jika kamu tidak melakukan kesalahan, bukankah seperti itu? Sebaliknya kamu harus mengucapkan maaf jika kamu melakukan kesalahan. Itu berarti seringnya kata maaf yang kamu ucapkan berbanding lurus dengan banyaknya kesalahan yang kamu perbuat. Apakah itu bisa disebut sebagai sesuatu yang membanggakan? Meski harus, kata maaf seharusnya tidak terlalu sering terucap. Karena jika itu terjadi, itu berarti kamu juga terlalu sering melakukan kesalahan.


Mau di akui atau tidak, sejatinya tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang senang atau bangga berada di posisi meminta. Tapi setelah kamu melakukan kesalahan, mau tidak mau kamu harus meminta maaf, dan kamu tidak pernah tau apakah dia akan menerima permintaanmu atau tidak, itu semua hak dia, tidak ada keharusan untuknya bisa memberimu maaf. Saat itu terjadi, kamu akan sadar, bahwa posisi meminta itu tidak menyenangkan, bahkan sangat menyedihkan, dan terkadang membuatmu seperti pecundang. Lalu apakah kamu masih mau mengumbar kata maaf?
Sebenarnya tidak ada satu manusia pun yang bisa luput dari kesalahan, tetapai kamu harus ingat satu hal, bahwa tidak ada manusia yang memiliki sikap pemaaf seperti Tuhan. Dengan demikian, seharusnya kamu berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan kecil memang sering kali tidak terasa, tapi jika sudah pernah melakukannya, kamu pasti akan memahaminya. Sekalipun tidak ada manusia yang bisa luput dari kesalahan, manusia tetap dianggap bodoh saat melakukan kesalahan yang sama. Mulai saat ini, simpan kata maafmu dalam-dalam. Buat kata itu sebagai kata yang berharga, caranya dengan mengurangi kesalahan-kesalahan yang tidak seharusnya kamu lakukan. Sebenarnya kamu selalu punya pilihan saat akan melakukan kesalahan, karena sungguh tidak ada kesalahan yang harus dilakukan, selalu ada pilihan untuk tidak melakukannya.
Kamu harus meminta maaf saat kamu melakukan kesalahan, tapi meski harus, kata maaf seharusnya tidak terlalu sering terucap. Karena itu berarti kamu juga sering melakukan kesalahan. Sebaliknya jika ada orang yang berbuat kesalahan denganmu, meski tidak ada keharusan memaafkannya, kamu memiliki keharusan untuk berbuat baik, memberikan maaf adalah salah satu perbuatan baik yang disukai oleh Tuhan. Kamu, dia dan siapapun di muka bumi ini, pasti pernah melakukan kesalahan, dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan kesalahan lagi. Karena kamu tau tidak ada manusia yang sempurna, dan tidak ada yang tau kehidupan manusia yang akan datang. Yang perlu kamu lakukan adalah berusaha menghindari kesalahan, sehingga kamu tidak harus mengucapkan kata maaf, karena kata maaf adalah sesuatu yang sangat berharga.

Ketulusan Payung dan Mendung

Ketulusan Payung dan Mendung


Payung, kamu pasti mempunyai payung dan menyimpannya di rumah, di salah satu sudut. Tanpa dijelaskan, kamu pasti mengerti apa fungsi payung. Payung bisa menjadi pelindung saat hujan, atau juga melindungi dari terik matahari. Payung selalu menjadi pelindung di saat hujan, saat tetesan hujan turun, payung mampu melindungimu darinya. Payung merelakan dirinya terkena hujan hanya untuk melindungimu, dalam sederas apapun hujan. Payung tidak pernah mengeluhkan betapa dinginnya dia, betapa sakitnya dia terkena tetesan hujan yang terkadang disertai dengan angin kencang. Payung dengan setia dan penuh ketulusan melindungimu dari hujan dan rela menahan dingin yang luar biasa. Tidak hanya itu saja, payung juga bisa kamu gunakan saat panas matahari begitu terik. Teriknya matahari memang akan menghangatkanmu dan seisi bumi, tapi pada saat tertentu, kamu akan merasa sakit karena terik yang begitu luar biasa. Di saat itu kamu bisa menggunakan payung untuk melindungimu dari terik matahari. Payung rela dirinya terbakar kepanasan oleh matahari, hanya untuk membuatmu merasa nyaman tanpa panas yang berlebihan.
Payung selalu bisa memberikan perlindungan untukmu, saat hujan dan terik. Tetapi ada saat dimana payung tidak lagi kamu gunakan, payung kamu campakan begitu saja, yaitu saat mendung. Saat cuaca tidak hujan dan tidak terlalu panas, kamu tidak membutuhkan payung dan kamu melupakannya begitu saja. Payung dan mendung tidak akan pernah menyatu, sampai kapanpun. Meskipun sesaat setelah mendung akan turun hujan gerimis dan payung kembali digunakan, tetap saja payung tidak akan ada saat mendung. Saat mendung tiba, payung hanya akan menunggu hingga turun hujan.
Sikap manusia memang selalu seperti itu, mendatangi suatu hal hanya saat dia membutuhkannya. Lalu kemudian mencampakannya saat dia sudah tidak lagi berguna. Entah kenapa sikap lupa pada manusia itu begitu tinggi, terutama lupa dengan kebaikan orang lain, lupa dengan hal-hal yang membantu dalam perjuangan hidupnya. Meskipun banyak manusia seperti itu, kamu harus bisa belajar untuk bisa menjadi seperti payung, selalu ada saat dibutuhkan, meskipun saat tidak lagi dibutuhkan kamu akan dibiarkan begitu saja. Setidaknya mereka akan sadar bahwa kamu berguna, bahwa kamu bisa diandalkan untuk suatu perkara. Kamu juga harus bisa seperti payung, ketulusan dan juga keikhlasan untuk berkorban. Payung membiarkan dirinya kedinginan karena hujan, mengabaikan rasa panasnya karena terik matahari hanya untuk melindungi pemiliknya.
Dalam hidup kamu, kamu pasti memiliki seseorang yang benar-benar ingin kamu jaga dan kamu lindungi. Kamu menganggap dia adalah seseorang yang pantas mendapatkan perjuanganmu. Untuk dia kamu akan rela menjadi seperti payung, bukan hanya dia yang menjadi milikmu. Saat kamu benar-benar ingin melindunginya, ketulusanmu melakukannya adalah benar-benar ketulusan yang sempurna. Bahkan saat dia adalah milik orang lain, seharusnya kamu rela menjadi payung untuk dia dan kekasihnya. Kamu seharusnya mampu menjadi penjaganya dan juga orang yang dicintainya. Jika kamu sudah mampu melakukan hal itu, kamu layak disebut sebagai payung. Payung yang terkadang benar-benar menjadi malaikat penolong, payung yang rela melakukan apapun untuk menjaganya, meskipun sering kali dia tidak menganggapmu.
Jika saat ini kamu masih menganggap menjadi payung itu menyakitkan, coba kamu pikirkan lagi. Saat kamu bisa menjaga dan melindungi orang yang kamu cintai, apakah itu menyakitkan? Jika kamu benar-benar cinta, kamu akan lebih sakit saat melihatnya terluka, dibandingkan rasa sakit lukamu karena menjaganya. Bukankah seperti itu? Payung melakukan itu karena kesetiaan dan ketulusan payung yang sempurna. Saat dia mampu melakukan apa saja untuk pemiliknya. Payung akan menjadi satu hal yang dicari saat hujan dan terik. Meskipun terkadang payung sama sekali tidak pernah dianggap saat mendung, saat dimana hujan dan terik tidak datang. Saat itulah payung tidak digunakan. Tapi payung tidak pernah menyalahkan keadaan itu, payung akan bertindak sebagaimana tugasnya, yaitu melindungi. Saat orang yang harus dia lindungi tidak sedang membutuhkan perlindungan, payung akan rela dan senang hati terabaikan.
Payung bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, bisa menjadi sebuah cerita yang sempurna. Jika selalu ada drama di tengah turunnya hujan, payung adalah pemanisnya, payung membawa cerita yang lebih indah, payung akan mewarnai hujan dengan ketulusan, cinta dan kesetiaan. Saat matahari terlalu terik, payung akan menjadi peneduh yang setia mengikuti setiap langkahmu. Payung selalu menjadi cerita yang manis di tengah hujan dan terik. Payung menjadi bagian yang menyenangkan di tengah kesulitan, di tengah rasa dingin dan kepanasan. Payung hadir dengan ketulusan yang sempurna untuk menjaga seseorang. Payung mungkin bukan sebuah hal yang bisa memberikanmu kemewahan, bisa memberikanmu sebuah pujian yang mampu menerbangkan hatimu. Tapi payung mampu menjagamu di tengah kesulitan.
Jika saat ini kamu mencintai seseorang, tapi dia bukan milikmu, jadilah seperti payung. Saat dia memilih orang lain, itu berarti dia mampu bahagia dengannya. Tapi jika kamu mampu menjadi seperti payung, kamu akan ada di saat dia sedang menjalani waktu yang sulit, jika kamu bisa menjadi payung untuknya, setidaknya kamu bisa menjaganya, kamu bisa menjauhkannya dari rasa sakit, sekalipun kamu tidak bisa membuatnya bahagia. Deras hujan dan terik surya bisa saja menyakitinya, kamu bisa menjaganya dari hal itu dengan menjadi payung. Meskipun terkadang menyakitkan, tapi percayalah itu sangat indah. Berjuang untuk orang yang dicinta, adalah satu hal yang sangat indah, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan, selalu membekas sebagai sejarah perjalanan cinta yang kamu lewati. Ketulusan payung seharusnya bisa kamu lakukan, untuk dia, meskipun saat mendung tiba, kamu harus rela melihatnya dengan yang lainnya.


Metamorfosa Kupu-kupu, Perubahan Menuju Sesuatu Yang Lebih Baik

Metamorfosa Kupu-kupu, Perubahan Menuju Sesuatu Yang Lebih Baik



Manusia memiliki tahap demi tahap yang harus dilewati di dalam hidupnya. Sejak seseorang dilahirkan hingga pada saat dia meninggal, pasti banyak perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Perubahan itu bisa terjadi dengan perubahan yang lebih baik atau sebaliknya.
Seperti kupu-kupu, perubahan harusnya menuju sesuatu yang lebih baik, lebih indah dan lebih tinggi. Kamu bisa belajar dari metamorfosa kupu-kupu, sebelum sampai pada titik menjadi kupu-kupu yang indah, dan bisa terbang kemana saja, terlebih dahulu akan menjalani masa yang sulit dan masa pada titik rendah.
Saat masih menjadi ulat, banyak orang yang akan mengculkannya, atau bahkan membuangnya karena dianggap menakutkan. Setelah pada tahap itu selesai, dia harus menjalani beberapa waktu untuk menunggu perubahannya sebelum bermetamorfasa sebagai kupu-kupu.
Belajar dari hal itu, seharusnya kamu bisa berubah semakin hari semakin baik. Pada titik tertentu kamu pernah berada di titik terendah dan dikucilkan orang lain, seharusnya tidak lantas membuat kamu menyerah dan memasrahkannya begitu saja.
Masih ada banyak jalan yang bisa kamu lakukan untuk lebih diakui, selalu ada cara untuk diupayakan jika kamu memang ingin menjadi lebih baik. Upaya yang kamu lakukan tidak akan membohongi hasilnya nanti. Jika sampai di titik terendah kamu justru berhenti, maka selamanya kamu tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya ada di titik tertinggi.
Saat masih menjadi seekor ulat, dia (kupu-kupu) berada di titik yang rendah, dimana hidupnya benar-benar tidak diinginkan dan bahkan terancam. Kemudian saat menjalani proses sebagai kepompong, hidup dia benar-benar keras, bahaya selalu mengintai dan tanpa pertahanan ataupun kebebasan dalam bergerak dan berupaya.
Tapi setelah itu semua terlewati, dia akan menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kemana saja, dia tidak lagi kesusahan untuk menikmati indahnya dunia. Itulah metamorfosa kupu-kupu yang sejatinya bisa kamu jadikan sebagai motivasi terbesar untuk bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dan lebih baik lagi, hingga pada titik dimana kamu bisa menjadi yang terbaik. Saat itulah kamu bisa benar-benar menikmati dunia, saat dimana semua orang bisa menganggapmu.
Lantas siapa yang bisa membuatmu memiliki metamorfosa kupu-kupu? Tentu saja adalah diri kamu sendiri, kamu tidak bisa mengandalkan orang lain untuk setiap perubahan di dalam hidupmu. Sekeras apapun orang lain memintamu untuk bisa berubah menjadi lebih baik, akan sia-sia saja jika kamu sendiri tidak menginginkannya.
Namun kamu harus ingat satu hal, tahapan demi tahapan untuk berubah menjadi lebih baik tidak selamanya mudah, mungkin juga kamu membutuhkan orang lain untuk mendukung perubahanmu, tapi tetap yang menjadi pemeran utama dalam perubahanmu adalah dirimu sendiri.
Bahkan mungkin kupu-kupu jika diberikan pilihan tidak ingin ada sebagai ulat terlebih dahulu, atau menjalani tahapan perubahannya saat menjadi kepompong. Kupu-kupu ingin terlahir sebagai kupu-kupu, sebagai sesuatu yang indah, bersayap dan bisa terbang bebas dimana saja.
Tapi ini adalah tahapan hidup yang memang harus dijalani. Tidak ada seorangpun yang terlahir langsung berada dititik puncak, selalu ada tahapan yang harus dilewati menuju titik itu. Ini bukan hanya persoalan yang terlihat, tapi mencakup dari dalam kepribadianmu.
Perubahan yang lebih baik bukanlah sebuah pilihan yang bisa kamu tinggalkan, sejatinya jika kamu memahaminya, ini adalah kewajiban yang harus kamu lakukan. Semakin hari, saat semua orang menuju perubahan yang lebih baik dan menjalani metamorfosa kupu-kupu, tidak mungkin kamu hanya berdiam diri dan berharap ada tumpangan menuju titik puncak.


Tuhan memang bisa melakukan apa saja, tidak ada keajaiban yang mustahil untuk Tuhan, tetapi sebagai manusia yang bijak kamu tidak boleh sama sekali menunggu keajaiban. Kamu perlu mengupayakan segala hal untuk mencapai tujuan kamu sendiri, selebihnya kamu bisa mendukung usahamu dengan berdoa kepada Tuhan untuk mempermudah semua yang kamu upayakan.
Kamu perlu ingat satu hal, bahwa semua manusia di dunia ini akan melakukan perubahan yang sama, dengan belajar dari metamorfosa kupu-kupu. Semua orang pasti pernah berada dalam titik terendah di dalam hidupnya, tapi tekad dan keyakinannya yang membuatnya bertahan dan fokus pada metemorfosa kupu-kupu. Saat semua orang percaya akan ada titik puncak yang akan dicapai, kenapa kamu tidak? Mereka sama sepertimu, yang membedakan hanyalah apa yang diupayakan.
Jika kamu berupaya untuk menjadi lebih baik setiap waktu, maka pada titik tertentu kamu akan benar-benar menjadi sesuatu yang akan benar-benar dihargai semua orang. Titik dimana kamu berada di titik puncak, atau setidaknya bukan titik terbawah di dalam hidupmu.
Perubahan baik mungkin saja butuh waktu, butuh perjuangan dan pengorbanan, tapi semua orang melewatinya, kenapa kamu tidak? Kamu bisa saja berhenti di titik kamu saat ini, tapi jangan pernah sesali jika semua orang sudah jauh di depan kamu. Atau kamu bisa memilih untuk tetap berjalan atau bahkan berlari untuk menjadi pribadi yang lebih baik, untuk mengikuti jejak metamorfosa kupu-kupu.
Segala hal baik selalu tidak mudah dilakukan, selalu tidak mudah diwujudkan, tapi harus dilakukan dan harus terjadi. Itu adalah tekad yang seharusnya tertanam dalam di hati dan jiwamu.
Saat kamu terbiasa melakukan perubahan baik, kamu akan sampai pada titik terbiasa. Terbiasa berbuat baik, terbiasa menjadi lebih baik, dan kamu tidak akan merasa sulit untuk melakukan hal baik.
Pada saat itulah perubahan kamu benar-benar ada di titik puncak, dimana kamu tidak lagi memikirkan cara untuk berubah menjadi lebih baik, tapi kamu melakukannya dengan senang hati dan bahkan tanpa disadari, seperti metamorfosa kupu-kupu, yang terbiasa berjuang untuk bisa menjadi sesuatu yang lebih dihargai dan sesuatu yang bisa terbang tinggi.

Rasa Curiga Justru Menyiksamu Sendiri

Rasa Curiga Justru Menyiksamu Sendiri



Manusia diciptakan untuk memiliki banyak rasa di dalam hatinya. Kehidupan seseorang akan membuatnya belajar untuk membentuk karakter dari apa yang dirasakannya. Salah satu yang sering muncul dan sangat mengganggu kehidupan seseorang adalah rasa curiga. Rasa curiga bisa terjadi untuk hal apa saja, dan seharusnya kamu menyadari, rasa curiga justru menyiksa dirimu sendiri.
Curiga justru akan membuat kamu tidak tenang, rasa curiga dan ketenangan adalah dua hal yang bertolak belakang. Pada akhirnya rasa curiga yang berlebihan menjadi faktor pembentukan karakter kamu yang sebenarnya kurang baik, misalnya saja kamu menjadi orang yang protektif, orang yang tidak bisa bersosialisasi karena selalu mencurigai semua hal di sekitar kamu.
Bukankah ini sesuatu yang sebenarnya tidak baik?
Memang terkadang bersikap dan bertindak hati-hati itu akan membantu kamu selamat dari kemungkinan buruk. Akan tetapi tidak selamanya kecurigaan bisa menyelamatkan diri kamu. Sebaliknya justru bisa membuatmu benar-benar tersiksa karena dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang tidak ada rasa toleransi sama sekali.
Saat sudah ada pada titik itu, kehidupan sosial kamu akan sedikit terganggu. Karakter kamu juga lama kelamaan akan menjadi karakter yang tidak baik, saat rasa toleransi hilang dan rasa curiga memenuhi hati dan pikiran kamu, saat itu juga kamu akan mulai kehilangan kehidupan kamu yang menyenangkan.
Segala isi di dalam kehidupan ini terlalu indah untuk dicurigai, tetapi juga terlalu berbahaya untuk diberikan kepercayaan sepenuhnya. Sebagai contoh adalah jika kamu menjadi seseorang yang pencuriga dengan pasangan kamu, apakah dengan mencurigainya bisa membuat kamu menjadi tenang?
Tidak sama sekali, kamu justru akan sangat jauh dari rasa tenang. Lantas apakah saat kamu mencurigainya, kemudian membuat dia bahagia bersamamu? Tidak juga, semua orang pasti ingin mendapatkan kepercayaan, terlebih lagi dengan orang yang sedang dekat. Kamu juga harus ingat satu hal yang penting, manusia tercipta sebagai makhluk sosial.
Itu berarti manusia memang ditakdirkan untuk bersosialisasi satu sama lain, tidak memandang gender, status, agama, ras, dan lain sebagainya. Manusia sama-sama diciptakan sebagai makhluk sosial yang memang harus bersosialisasi.
Saat kamu melarang pasangan kamu untuk bersosialisasi dengan orang lain, itu berarti kamu bukan manusia yang selayaknya manusia. Kecurigaanmu terhadapnya justru akan menjauhkanmu dari dia. Selain rasa curiga, manusia juga diciptakan dengan sikap tanggung jawab. Jadi tanpa kamu mencurigainya, dia akan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.


Sejak kecil, manusia sudah diajarkan arti tentang konsekuensi. Hal ini yang membuat manusia tidak pernah ingin mendapatkan konsekuensi buruk di dalam hidupnya. Tanpa kamu meminta, dan tanpa kamu mengekangnya, dia akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, dia akan berusaha tidak mengecewakanmu.
Karena dia juga manusia, yang pasti memiliki keinginan dan ambisi menjadi yang terbaik. Selain itu, rasa curiga justru menyiksamu sendiri, karena pikiran kamu dipenuhi dengan pikiran yang negatif, akan membuat hati dan jiwamu tidak tenang.
Itulah alasan kenapa pencuriga selalu tidak bahagia, karena menyiksa dirinya sendiri dengan hal-hal yang dianggap buruk padahal tidak selalu buruk.
Seharusnya kamu memahami, dia yang kamu curigai juga memiliki etika yang sama sebagai manusia sepertimu. Dia tidak akan senang jika membuat orang lain kecewa, apalagi sampai mengecewakanmu.
Rasa kepercayaan yang seharusnya lebih dalam kamu tanamkan di hatimu untuk dia. Kecurigaanmu justru akan mendangkalkan rasa hormat dia kepadamu, dan itu akan terus mendangkal jika kamu terus menjadi pribadi yang penuh curiga.
Rasa curiga juga akan membuat karakter yang tidak baik dalam hidupmu, kamu bisa menjadi pribadi yang posesif dan tidak mudah bersosialisasi. Di dunia ini, tidak ada satu orangpun yang ingin merasa terkekang, semua orang ingin memiliki kebebasan dan juga kepercayaan.
Karena rasa percaya yang diterima oleh seseorang akan menambah rasa hormat di dalam dirinya, itu sangat penting. Rasa hormat dan kehormatan adalah sesuatu yang tidak ternilai dan tidak bisa ditawar lagi. Semua orang akan berjuang mati-matian untuk menjaga kehormatannya, dan semua orang akan menghargai sekecil apapun rasa hormat yang kamu berikan kepadanya.
Sebaliknya jika kamu dipenuhi rasa curiga terhadapnya, tidak ada rasa percaya sama sekali, dia akan merasa tidak dihormati, dia akan merasa tidak ada artinya untukmu, selain hanya sebagai tahanan bersyarat.
Kecurigaanmu tentang suatu hal tidak selamanya benar, banyak hal yang kamu curigai justru tidak seburuk yang ada di pemikiranmu. Saat pikiran kamu sudah dipenuhi rasa curiga dan pemikiran negatif, saat itu juga ketenangan dalam hidup akamu akan musnah.
Kamu tidak akan bisa mendapatkan ketenangan yang seharusnya, karena kamu terlalu memikirkan sesuatu dengan berlebihan. Ketakutanmu akan hal-hal di sekitar kamu sudah terlewat batas, dan secara langsung akan membatasi hubungan sosial kamu dengan orang lain.
Selain itu, orang yang dipenuhi rasa curiga tentang semua hal, justru akan mengurangi rasa hormatnya sendiri. Dalam hidup ini semua hal penuh dengan imbal balik, penuh dengan sebab dan akibat. Saat kamu menjadi pribadi yang pencuriga, kamu akan berhati-hati dalam bersosialisasi, bahkan cenderung takut.
Jika hal ini terjadi, rasa hormat orang ke kamu akan hilang. Karena kamu sendiri tidak bisa menghargainya dengan rasa percaya dan pemikiran yang baik. Inilah alasan kenapa rasa curiga justru menyiksamu sendiri.
Jika kamu bisa membuat dirimu sendiri menjadi tenang dan damai, kenapa kamu harus merusak itu dengan rasa curiga? Rasa curiga hanya akan menghancurkan ketenangan dan kedamaian hati kamu saja.