"Bertahan Hidup Untuk Sebuah Kebenaran"
Hidup
layaknya masyarakat umum nampaknya tak bisa di rasakan oleh Iman, seorang pria
berumur 30 tahun yang semasa hidupnya selalu di penuhi dengan kesedihan karena
perjuangan demi kisah cintanya.
Semasa mudanya
Iman menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan beribadah. Ya, dia memang
seorang yang rajin beribadah dan bekerja. Parasnya yang tampan juga menjadi
kelebihannya yang menjadikan dirinya banyak di inginkan wanita.
Meskipun hidup
dengan sederhana, namun Iman tidak pernah sedikitpun mengeluhkan kehidupan
ekonominya. Bahkan dia selalu menyisihkan uang gajinya untuk bersedekah demi
pembangunan sebuah masjid di desa tetangga yang terhambat selama beberapa tahun
akibat warganya yang tak mampu meneruskan pembangunan.
Hingga suatu
hari saat dia sedang beribadah di masjid tersebut, tak sengaja ia bertemu
seorang gadis berparas cantik. Di ketahui bahwa gadis tersebut adalah gadis
asal desa tersebut. Karena merasa ada hal yang berbeda di hatinya, lantas Iman
mengajak berkenalan dengan gadis tersebut.
Waktu demi
waktu berlalu, dan hubungan mereka pun semakin dekat. Hingga tiba dimana Iman
mantap untuk memperistri gadis tersebut. Dengan bekal yang tak banyak, Iman
beserta keluarganya datang ke rumah gadis tersebut untuk melamarnya.
Setibanya di
sana, bukan sambutan baik yang di dapatkan Iman dan keluarganya, melainkan
sikap kurang menyenangkan yang di tunjukkan keluarga gadis tersebut. Setelah
beberapa saat berbicara, dan mengatakan apa tujuan datang ke rumah tersebut
lalu keluarga gadis tersebut menjawab dengan tegas bahwa ada syarat yang harus
di penuhi Iamaran untuk bisa memperistri gadisnya.
Ya, memang
tradisi di sini ketika seorang pria melamar seorang gadis adalah bukan sang
gadis yang menentukan jawabannya, melainkan keluargannya lah yang akan
menentukan. Mungkin bisa di bilang cara ini salah satu cara pemaksaan secara
halus.
Mendengar
ucapan tersebut, lantas keluarga Iman menanyakan apa syarat yang harus di
penuhi. Tanpa rasa malu, mereka menjawab uang tunai sebesar 100 juta, jawabnya.
Pernyataan
itu sontak membuat keluarga Iman kaget bukan main, pasalnya mereka sadar diri
bahwa persyaratan itu tidak akan bisa di penuhi. Dengan hati yang kecewa, Iman
dan keluarganya pulang.
Sesampainya
di rumah, Iman langsung masuk ke kamarnya. Namun waktu itu ia tak langsung
beristirahat, sholat 2 raka’atlah yang dia lakukan. Dia memohon kepada Allah
untuk di berikan keajaiban agar bisa memperistri gadis yang di cintainya.
Setelah
beberapa waktu berlalu, Iman memutuskan untuk merantau ke kota demi mendapatkan
uang yang banyak. Tujuannya hanya satu, yaitu agar bisa memperistri gadis
pujaan hatinya.
Semapainya ia
di kota, ia langsung mencari tempat tinggal sementara. Karena bekal yang dibawanya
tidak banyak, Iman hanya bisa mendapat kamar kos sempit yang berada di pinggir
kota.
Beberapa hari
dia tinggal di kota namun belum juga membuatnya mendapat pekerjaan, hingga pada
hari ke 5 ia mendatangi sebuah rumah mewah untuk melamar pekerjaan sebagai
tukang bersih-bersih di sana. Dan ternyata yang keluar dari rumah mewah
tersebut adalah wanita cantik dengan pakaian yang seksi.
Saat itu Iman
tak memikirkan hal demikian, yang terpenting baginya adalah mendapat pekerjaan
secepat mungkin. Tak di sangka, ternyata wanita itu menerima Iman untuk bekerja
di rumahnya.
Setelah
beberapa hari Iman bekerja di rumah wanita tersebut, Iman merasa betah karena
merasa majikannya baik dan perhatian kepadanya. Tanpa ia sadari, ternyata
sebenarnya majikan Iman yang di ketahui seorang janda tersebut menyukai
dirinya.
Beberapa kali
majikannya menggoda Iman untuk mau berhubungan badan dengannya. Sungguh
perbuatan yang sangat tidak layak di lakukan oleh wanita berpendidikan
sepertinya. Dengan tegas pula Iman menolaknya.
Untuk
awal-awalnya, manjikannya tersebut tidak marah dan justru membujuknya dengan
iming-iming harta yang begitu berlimpah. Karena merasa stres tidak bisa
mendapatkan uang dalam waktu yang cepat, Sempat membuat Iman berfikir untuk
menerimanya.
Namun setelah
beberapa saat ia tersadar dan langsung mengucap Istighfar. Tanpa pikir panjang
lagi ia menolak majikannya untuk kesekian kalinya.
Karena sudah
di tolak berkali-kali, lantas manjikannya tersebut kesal dan mengusir Iman
dengan kasarnya. Dengan hati yang bingung sekaligus bersyukur karena telah
mendapat perlindungan Allah Iman pun pergi dari rumah itu.
Dia tak tahu
harus pergi kemana, karena uang bekalnya telah habis. Sedang selama 3 bulan ia
bekerja di rumah wanita tadi pun dia tak di bayar. Di tengah perjalanan, Iman
menjumpai sebuah mushola kecil.
Ia berfikir
disitu lah ia akan tinggal untuk beberapa waktu. Selama semalam dia di mushola
tersebut, Iman merasa prihatin dengan keadaan mushola yang tidak terawat. Lalu
pada pagi harinya ia segera membersihkan mushola kecil tadi tanpa mengharap
imbalan apapun.
Yang ada
dalam hatinya adalah keinginan melihat rumah Allah yang bersih serta banyak di
kunjungi jamaah. Sampai sholat dzuhur Iman baru selesai bersih-bersih.
Mendengar suara adzan langsung saja membuat dirinya bergegas mandi di toilet
mushola dan menjalankan sholat berjamaah.
Dan disini
dia menjumpai hal menyedihkan lainnya, dalam kota yang begitu besar, hanya 3
orang saja yang menjalankan sholat berjamaah yaitu muazin sekaligus imam
mushola, dirinya sendiri dan seorang laki-laki yang nampaknya bukan warga asli
situ.
Setelah
selesai menjalankan sholat berjamaah, Iman pun berniat untuk melanjutkan
perjalanannya mencari pekerjaan. Sebelum ia beranjak pergi dari mushola, ia
melihat sebuah tas yang nampaknya miliki bapak yang tadi sholat berjamaah di
mushola tersebut.
Tanpa
berfikir panjang Iman segera menyusulkan tas itu pada pemiliknya. Dan betul tas
itu memang miliki bapak tadi. Lantas bapak pemilik tas tersebut mengucapkan
terimakasih berkali-kali dan hendak memberikan imbalan.
Namun karena
Iman melakukannya dengan ikhlas, ia pun menolaknya secara halus. Sebagai balas
budi, bapak tersebut menawarkan diri untuk mengantarkan Iman pulang ke kampung.
Karena merasa putus asa dengan kehidupan kota yang begitu kejam, Iman lantas
menyetujuinya.
Sesamapainya
di rumah Iman dan di sambut dengan ibu Iman yang seorang janda. bapak tersebut
kaget bukan main. Ternyata ibu Iman adalah Istri sahabat bapak tersebut yang
dahulu pernah sangat berjasa padanya.
Memang
dahulunya keluarga Iman adalah keluarga orang mampu, hingga ayahnya meninggal
dan keluarganya jatuh miskin. Bapak tersebut mengaku bahwa saat dia belum
sesukses ini, ayah Iman pernah memijaminnya uang untuk modal usaha yang
akhirnya bisa membuatnya sukses seperti sekarang.
Belum sempat
mengembalikan uang yang di pinjamnya, namun dia sudah terlanjur kehilangan alamat
Ayah Iman. Dan sungguh keajaiban dari Allah, pada saat itu juga bapak tersebut
membayar hutangnya pada Ayah Iman 30 tahun silam. Yang bahkan Ibu dan Iman
sendiri tak mengetahuinya sedikitpun.
Dan yang
lebih mengejutkan lagi, jumlahnya adalah 100 juta.
Sungguh
rezeki dari Allah yang tiada isa di duga dari mana datangnya. Asalkan kita
mampu menjaga diri agar selalu di jalannya, pasti Allah akan memberikan
pertolongan-Nya.

No comments:
Post a Comment