"Menanam Kebaikan Berbuah Manis di Hari Depan"
Berbuat
kebaikan mungkin sudah menjadi kegiatan wajib seorang wanita paruh baya bernama
Siti. Siti merupakan seorang janda dengan 2 orang anak yang masih berumur 5 dan
3 tahun.
Ia di tinggal
mati suaminya ketika anaknya yang kedua baru berumur 1 tahun. Hal ini
memaksanya untuk selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan
kedua anaknya.
Karena tidak
berpendidikan tinggi, pekerjaan yang bisa dia lakukan hanyalah membantu
catering tetangganya. Ya, syukur saja tetangganya tersebut merupakan orang yang
baik, sehingga hampir setiap hari Siti di beri makanan sisa catering.
Meskipun
hanya makanan sisa, namun baginya itu sangat berarti. Karena dengan makanan
yang di berikan oleh majikannya tersebut ia bisa menghemat pengeluaran
sehari-hari.
Suatu hari,
ketika wanita paruh baya tersebut sedang pulang dari tempatnya bekerja membantu
catering. Ia menjumpai seorang nenek renta berada di pinggir jalan dengan
dagangannya yang tak ada satu orang pun mau membelinya.
Nenek
tersebut berjualan kerudung. Tak tega melihat si nenek yang terlihat begitu tua
dan lemah tersebut, Siti pun menghampirinya dan bertanya pada si nenek “apakah
nenek tidak memiliki keluarga hingga sudah setua ini masih harus berjualan?”.
Kemudian
nenek tersebut menjawab dengan lirih “nenek hanya hidup berdua dengan anak
laki-laki nenek yang cacat, sehingga neneklah yang harus mencari nafkah untuk
hidup kami berdua”. Mendengar cerita nenek yang sangat mengharukan tersebut,
Siti lantas tak berfikir panjang untuk membeli kain yang di buat nenek
tersebut.
Kebetulan
waktu itu Siti telah mendapat gajinya membantu catering selama sebulan,
sehingga cukup untuk membeli beberapa kerudung nenek tersebut. Ya, meskipun
sebenarnya gaji yang di dapat Siti sangat mepet untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sendiri.
Sesampainya
di rumah, Siti tak henti mendapat cobaan yang luar biasa. Setelah uangnya
tersisa beberapa lembar saja, dia mendapati anak terakhirnya sedang demam
tinggi. Hal ini pun sontak membuatnya panik, karena tak ada obat di rumah yang
dapat segera ia berikan pada anaknya.
Dengan hati
yang masih gelisah, Siti segera memanggil tukang becak untuk mengantarkan anak
dan dirinya ke Puskesmas terdekat. Setelah sekitar 15 menit perjalanan,
akhirnya sampailah dia di Puskesmas dan sesegera mungkin anaknya di bawa ke ruang
IGD.
Setelah
beberapa saat anaknya di periksa, dokter yang memeriksa anaknya keluar dari
ruangan dan menyatakan bahwa anak Siti terkena tifus dan harus di rawat di
rumah sakit. Mendengar pernyataan dokter tersebut, Siti tentu saja sangat kaget
dan bingung bukan main.
Hal utama
yang di pikirkannya tentu bagaimana cara dia memenuhi biaya rumah sakit yang
begitu mahal, sedang penghasilannya saja hanya cukup untuk hidup hari ini dan
esok. Namun, melihat anaknya yang begitu lemah, Siti juga tak tega jika harus
membiarkannya tak di rawat di rumah sakit dan lebih memilih untuk merawatnya
sendiri di rumah
Karena dia
juga sadar, jika dia melakukan hal itu maka kesembuhan anaknya tidak akan
cepat. Bahkan justru bisa memperparah keadaan anaknya, sebab Siti sendiri
sangat rendah pemahamannya mengenai ilmu kesehatan.
Setelah
beberapa saat berfikir, akhirnya Siti menyetujui usulan dokter untuk segera
membawa anaknya ke rumah sakit. Selama anaknya di rawat di rumah sakit, Siti
pun tak hentinya mencari uang pinjaman kesana kemari guna memenuhi pembayaran
biaya rumah sakit yang pastinya tak sedikit.
Selepas dari
itu, Siti juga tak pernah lepas doa kepada Allah SWT yang senantiasa maha kaya
lagi maha pemberi. Di sisi lain ia merasa sudah sangat putus asa karena begitu
sulitnya mencari pinjaman, namun di sisi lain dia juga sadar bahwa Allah tidak
akan membiarkan hambanya yang mau berusaha dan memohon pada-Nya untuk
kekurangan terus menerus.
Hingga sampai
dimana anaknya sudah sembuh dan diperbolehkan untuk pulang. Rasa bahagia karena
anaknya sudah sembuh bercampur bingung bukan main karena belum juga mendapat
uang pinjaman untuk membayar biaya rumah sakit bercampur dalam hatinya.
Namun tak mau
memperlihatkan kebingungannya pada anaknya yang sudah sangat ceria karena diperbolehkan
pulang, Siti pun segera mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pulang.
Sebelum pulang tentu ia harus mengurus administrasi di bagian kasir, lalu a
berpamitan pada anaknya untuk pergi ke kasir.
Dengan
langkah yang begitu berat, Siti melangkah ke kasir. Kebetulan waktu itu kasir
sedang cukup ramai dan mengharuskannya menunggu. Di bangku tunggu, tak di
sangka ia bertemu teman lamanya yang sekarang sudah menjadi sukses.
Setelah
beberapa bercakap-cakap tentang kabar masing-masing, akhirnya temannya tersebut
menanyakan sedang apa Siti di sini. Dengan wajah yang seketika berubah menjadi
sendu, Siti menjawab bahwa dirinya sedang mengganti untuk membayar biaya rumah
sakit anaknya yang telah di rawat selama 5 hari di rumah sakit.
Tanpa
menceritakan masalah kesusahan biayanya, karena takut bisa merepotkan teman
dekatnya tersebut Siti kemudian maju ke kasir karena kebetulan nama anaknya
sebagai pasien sudah di panggil.
Saat itu
pula, temannya segera menyusul Siti ke kasir. Karena masih di tanya tentang
beberapa hal oleh petugas kasir, tanpa menunggu lama teman Siti tadi langsung
menyodorkan setumpuk uang untuk membayar biaya rumah sakit anak Siti.
Tentu saja
hal ini sangat mengagetkan bagi Siti, karena tak sedikitpun dia
mengungkit-ungkit kesusahannya pada teman dekatnya itu. Dengan air mata yang
tak bisa di tahan lagi, berkali-kali Siti mengucapkan terimakasih pada teman
dekatnya tersebut.
Usut punya
usut, ternyata teman dekat Siti yang telah menjadi sukses tersebut adalah
seorang pengusaha jilbab. Dimana
jilbabnya termasuk jilbab yang di jual nenek renta beberapa waktu silam.
Mungkin ini
adalah maksud dari kebaikan yang berbuah manis di hari depan.

No comments:
Post a Comment